Sabtu, 19 Januari 2008

Asal Muasal Gunung Anak Krakatau


Di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera, terdapat gunung vulkanik (berapi) teraktif didunia, yaitu gunung Anak Krakatau. Gunung ini memiliki ketinggian 813 mdpl (2,667 kaki). Secara geografis, gunung ini terletak di koordinat 6°6′27″LS, 105°25′3″BT. Sedangkan wilayahnya termasuk dalam Kabupaten Lampung Selatan, Propinsi Lampung.

Menurut sejarah, pada mulanya gunung Anak Krakatau bernama pulau Krakatau besar atau biasa kita sebut dengan nama Gunung Krakatau. Gunung yang juga disebut Krakatoa dalam bahasa Inggris ini adalah sebuah gunung (Gunung Krakatau purba) yang memiliki ketinggian sekitar 2000 mdpl dengan lingkaran pantainya sekitar 11 km dan radius sekitar 9 km2.

Namun ledakan dahsyat yang terjadi sekitar 416 M ini telah menghancurkan tiga perempat tubuh gunung tersebut dan menyisakan tiga pulau besar, yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang, serta sebuah kaldera di tengah ketiga pulau tersebut. sebelum tahun 1883 munculah dua buah gugusan gunung yang bernama Gunung danan dan gunung Perbuatan yang kemudian lama-kelamaan bersatu dengan Pulau rakata dan biasa disebut dengan Gunung Krakatau saja.

Pada tahun 1880, yang disebut masa strombolian, aktivitas vulkanis berlangsung selama beberapa bulan, dan Gunung Perbuatan aktif mengeluarkan lava. Setelah periode itu, tidak ada aktivitas vulkanis hingga akhirnya muncul tanda akan adanya letusan pada bulan Mei 1883.

Lalu pada tanggal 27 Agustus 1883 Gunung Krakatau meletus. Menurut catatan sejarah yang hingga kini selalu dipromosikan jajaran pariwisata Lampung, Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat, menggemparkan dunia. semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km. Sementara abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. dilihat dari Amerika Utara dan Eropa, saat itu cahaya matahari tampak berwarna biru dan bulan tampak jingga (oranye).

Letusan gunung ini menghasilkan debu hebat yang mampu menembus jarak hingga 90 km. Letusan itu pun berdampak terjadinya gelombang laut sampai 40 m vertikal dan telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa pada 165 desa baik di Lampung Selatan ataupun di Banten yang merupakan daerah paling ujung bagian barat pulau Jawa. Karena letusannya itulah telah melenyapkan Gunung Danan dan Perbuatan dari muka bumi sehingga menyisakan tiga pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata serta sebuah kaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut yang berdiameter 7 km.

Menurut catatan ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geoghrapic Simon Winchester, ledakan Gunung Krakatau adalah ledakan yang paling besar, suara paling keras, dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh-lantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 peduduk bumi saat itu.

Sementara menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau hampir sama dengan ledakan Gunung Tambora (Nusa Tenggara Timur) pada 1815. ledakan kedua gunung itu mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Sedangkan buku The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Empat puluh tahun kemudian lahir keajaiban baru. Sekitar tahun 1927 para nelayan yang tengah melaut di Selat Sunda tiba-tiba terkejut. Kepulan asap hitam di permukaan laut menyembul seketika di antara tiga pulau yang ada, yaitu di kaldera bekas letusan sebelumnya yang dahsyat itu. Kemudian pada tanggal 29 desember 1929 sebuah dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi. Hanya dua tahun setelah misteri kepulan asap di laut itu, kemudian muncullah benda aneh. "Wajah" asli benda aneh itu makin hari makin jelas dan ternyata itulah yang belakangan disebut “Gunung Anak Krakatau”.

Gunung ini memiliki keunikan tersendiri, sebab gunung ini selalu menambahkan ketinggiannya sekitar satu senti tiap harinya. Gunung Anak Krakatau yang semula hanya beberapa meter saja, sekarang sudah mencapai 813 mdpl sejak munculnya pada tahun1927. Gunung ini tercatat telah meletus sekitar 16 kali sejak Desember 1927 sampai Agustus 1930 dan 43 kali sejak 1931-1960 dan 13 kali sejak 1961-tahun 2000. Hingga saat ini pun, gunung Anak Krakatau masih menunjukan aktivitasnya sebagai gunung vulkanik, dengan ditandai seringnya terjadi letusan vulkanik A (dalam), vulkanik B (dangkal), dan tremor (gempa).

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990, Kepulauan Krakatau ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau dengan luas 13.735,1 hektare (ha), yakni 11.200 ha wilayah laut dan 2.535,1 ha wilayah darat, yang dikelola BKSDA II Tanjungkarang.

Sebelumnya, sejak tahun 1919, Pulau Sertung, Rakata, dan Panjang juga sudah ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan SK Gubernur Jenderal Belanda No. 83 Stbl 392 tanggal 11 Juli 1919 Jo No 7 Stbl 392 tanggal 5 Januari 1925.

Iklim di kawasan ini terdiri dari musim kemarau pada April sampai Agustus dan musim penghujan dari bulan September hingga Maret dengan curah hujan rata-rata 850 mm per tahun. Waktu yang baik untuk berkunjung ke kawasan ini adalah dari bulan Maret hingga Juni.

Melihat unik dan eksotiknya kawasan cagar alam ini sangat potensial dikembangkan untuk objek wisata dengan minat khusus mengingat kawasan ini merupakan laboratorium alami untuk mempelajari pengetahuan alam, geologi, vulkanologi, dan biologi. Di sini pengunjung bisa meneliti berbagai gejala alam, seperti bagaimana terbentuknya pulau, gunung, hutan dan lain sebagainya.

Di Gunung Anak Krakatau, dari pinggang hingga puncaknya terdiri dari pasir dan batu-batuan kerikil bewarna abu-abu hingga hitam. Medannya tandus dan hanya pada pinggiran pantainya yang mulai ditumbuhi cemara (Casuarina equisetifolia), waru (Hibicus tiliaceus), ketapang (Terminalia catapa), kangkung laut (Ipones peseapral) dan alang-alang (Imperata) pada bagian agak ke atas.

Sementara itu, di Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Panjang banyak tumbuh jenis kayu kilangir (Chriscocheton mierecorpus), ketapang (Terminalia catapra), mara (Macaranga fanarius), cemara (Casuarina aquisetifolia), melinjo (Gnetum gnemon), dadap (Ficus ampelas), bisoro (Ficus hispida), dan cangkudu (Morindo catrifalia).

Selain flora, fauna juga banyak mendiami cagar alam ini. Di sini Banyak ditemukan biawak (Varanus sp), burung troco (Plegadis facinellus), tikus (Rattus rattus), burung raja udang (Halcyon funebris), burung kacer (Copsychus sp), burung podang (Oriolus chinearis), wili-wili (Esacus magnirostris), burung troco, kalong (Peteropus pampires), elang (Folconidae), sesap madu (Heliphagidae), ular sanca (Phyton sp), ular dahan (Phyton sp), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hujan. Khusus di Gunung Anak Krakatau jenis fauna yang mampu hidup di sini relatif sedikit. Cuma terdapat biawak, tikus, dan ular dahan.

Kekayaan biota laut berupa lebih kurang 54 spesies, di antaranya tujuh jenis ikan kepe-kepe yang merupakan indikator keutuhan karang di perairan setempat. Sedangkan jenis yang dominan adalah famili Chaetodontidae. Dari hasil pengamatan yang dilakukan BKSDA, diketahui bahwa Pulau Rakata memiliki penyebaran jenis ikan hias yang lebih banyak dibandingkan tiga pulau lainnya.

Apalagi biota laut sekitar Gunung Anak Krakatau sangat miskin ikan hias. Hal ini disebabkan suhu perairan sekitar pulau ini terlalu tinggi dan di luar batas toleransi hidup binatang karang. Keadaan ini dipengaruhi oleh aktivitas magma dari gunung aktif tersebut. (Diolah dari berbagai sumber)